Awal dari kepedulian kami untuk
orang-orang sekitar yang kebanyakan berada di jalanan adalah berbagi sebungkus
nasi di sekitar simpang lima. Ini adalah sebuah tindakan yang sederhana, tidak
memerlukan banyak biaya tetapi sangat bermanfaat bagi orang-orang yang hidup di
jalanan.
Kami tidak memandang
latar belakang mereka. Bagaimana perilaku mereka, baik atau sangat tidak
terkontrol. Tetapi karna sebuah niat untuk berbuat baik kami dapat berbaur
dengan mereka tanpa batas.
Mereka dengan
lancarnya menceritakan setiap kisah hidup mereka. Susahnya hidup di jalanan
yang tak dapat di prediksi. Pengalaman yang selalu berbeda di setiap harinya.
Juga tak dapat dengan enaknya memilih makanan enak yang di inginkan. Itu sebuah
pelajaran bagi kami untuk lebih menerima apa yang kami miliki sekarang.
Pertama kami berbagi dengan tukang
becak. Kami merasa sangat senang mereka menerimanya dengan senyum bahagia.
Senyum itu membuat saya pribadi sangat senang bahwa mereka menerima nasi
bungkus pemberian kami dengan sukacita. Pembelajaran yang dapat saya ambil dari
para tukang becak itu adalah sebuah nilai solidaritas. Ketika saya memberi
salah satu dari mereka, beliau meminta kepada saya untuk juga memberikan nasi
bungkus itu kepada ibu-ibu yang meminta-minta di pinggir jalan.
Lalu kami membagikan nasi bungkus kepada bapak tukang
sapu. Saat itu beliau sedang beristirahat setelah menyapu sekitar tempat yang
sudah di tentukan. Dengan memakai seragam, beliau menceritakan berapa yang ia
dapat sehari
dengan menyapu jalan selama beberapa
jam. Beliau mendapat bagian menyapu di sekitar jalan sebelah kanan masjid yang
berada simpang lima. Nilai yang saya dapat dari bapak tukang sapu adalah
menjalani dengan total kegiatan yang ada setiap harinya tanpa keluh kesah.
Kami membagikan
kepada sekelompok bapak-bapak yang sedang berkumpul di bawah pohon. Mereka
dengan kompaknya berkata terima kasih dan mengucapkan doa bagi kami untuk dapat
lebih di bei berkah oleh Tuhan. Saya mendapatkan nilai dari beliau adalah terus
mensyukuri kehidupan ini dengan lapang dada tanpa tuntutan. Tetapi juga
diimbangi dengan sebuah usaha-usaha.
Ini sebagian orang yang kelompok saya
beri nasi bungkus. Saya menyakini kegiatan ini dari ayat alkitab di dalam
Imamat 19:18 yang berbunyi “Janganlah engkau menuntut balas, dan
janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan
kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan”. Dari ayat ini
saya menekankan nilai mengasihi manusia tanpa memandang siapa dan mengapa
melakukannya. Tuhan menghendaki setiap manusia saling berbuat baik dalam kasih.
Karena kasih akan memancarkan sebuah kedamaian. Jadi dengan awal mengasihi akan
memunculkan nilai-nilai kebaikan di kedepannya.